Home »
Wisata
» Wisata Candi Gunung Gangsir (Kebon Candi)
Candi Gunung Gangsir (Kebon Candi)
Mengunjungi situs sejarah Candi Gunung Gangsir. Serasa impossible terdapat situs candi ditengah-tengah padatnya pemukiman. Nyatanya? Luar biasa saya terkagum atas kemegahan candi Gunung Gangsir. Sayang sekali penunjuk arah tentang adanya peradaban tersebut belum ada. Harusnya kita semua menyebarluaskan peninggalan berharga tersebut sebagai bentuk apresiasi dan belajar pengalaman dari nilai-nilai sejarah.
Meski demikian, pengunjung candi cukup banyak. Seharusnya, pemerintah lebih merespon itu dengan renovasi hal ikhwal situs Candi Gunung Gangsir.
Adapun nama candi Gunung Gangsir masih bersifat mitos masyarakat sekitar. Nama depan candi, kata “Gunung” diambil dari keberadaan bangunan candi (pada masa lampau) yang dilingkupi oleh gunung. Sedangkan nama belakang candi, kata “Gangsir” diambil dari peristiwa adanya pencurian atas harta benda yang terdapat dalam candi dengan cara “nggangsir”, yaitu menggali lubang di bawah permukaan tanah. Tersusunlah menjadi sebuah nama yaitu Candi Gunung Gangsir.
Struktur Bangunan Candi Gunung Gangsir
Cukup sederhana, bangunan candi berbentuk segi empat bertingkat. Semakin ke atas bangunan candi semakin mengecil (seperti Pagoda). Candi Gunung Gangsir berdiri di atas lahan berukuran 62 x 24 m². Bangunan candi memiliki panjang 20 m dan lebar 17 m. Struktur bangunan terdiri dari susunan batu bata. Denah lantai dasar merupakan segi empat dengan sebuah tonjolan pada sisi timur, berlawanan dengan arah keletakan tangga. Begitu juga dengan denah tubuh dan atap candi berbentuk segi empat, tetapi terdapat tonjolan (ramping) terletak pada keempat sisi tubuh candi. Selain itu, candi menghadap ke arah Gunung Penanggungan. Gunung Penanggungan adalah gunung suci (Ardi Pawitra) dan merupakan replika Gunung Himalaya (Gunung Meru).
Sekilas Mitos Sejarah
Bercocok tanam menjadi sebuah pengetahuan baru oleh masyarakat zaman dahulu. Sebelumnya kehidupan masyarakat selalu mengembara (boro-boro), termasuk mencari makan dan tempat tinggal. Satu makanan tersebut adalah sebangsa rumput-rumputan tuton. Suatu ketika setelah mengembara kesana-kemari, masyarakat mulai sadar bahwa rumput-rumputan tersebut semakin habis dan masyarakat belum menemukan pengganti makanan tersebut. Ketika itu, masyarakat menjadi kebingungan.Datanglah seorang perempuan bernama Nyi Sri Gati, entah dari mana asalnya, mengajak para boro untuk meminta petunjuk kepada Sang Hyang Widi (Tuhan) agar dapat mengatasi bahan makanan yang makin berkurang. Doa masyarakat terkabul. Suatu hari datanglah burung-burung sebangsa buruk gelatik yang membawa sesuatu. Setelah sesuatu tersebut dijatuhkan oleh burung gelatik, ternyata itu biji berupa padi dan kulit. Akhirnya, padi dan kulit di tanam (di sebelah utara candi) oleh masyarakat sesuai petunjuk Nyi Sri Gati. Tanaman padi tersebut ada yang berbuah padi biasa dan berbuah batu permata. Itulah yang menyebabkan Nyi Sri Gati menjadi kaya raya dan akhirnya dikenal sebagai Mbok Rondo Dermo.
Kekayaan Mbok Rondo Dermo tersebut menarik perhatian para pedagang dan pengembara yang ingin menjual batu permata ke daerah lain. Di tengah jalan, mereka menggelapkan barang dagangan milik Mbok Rondo Dermo dengan sebuah perahu. Berkat kekuatan ghaib Mbok Rondo Dermo perahu tersebut tenggelam serta terbalik menjadi Gunung Perahu yang kini terletak di lereng Gunung Penanggungan (sebelah barat Pasuruan). Selain itu, tidak hanya para pedagang, para penjahatpun tertarik untuk memiliki kekayaan Mbok Rondo Dermo. Banyak sekali yang mencoba merampas/merebut harta kekayaan Mbok Rondo Dermo , namun semuanya bisa dikalahkan. Nama-nama penjahat itu akhirnya dijadikan nama desa yang ada di sekitar Candi Gunung Gangsir, yaitu: Gununggangsir, Selo Tumpuk, Sumber Tumpuk, Selo Kambang, Dermo Kebonoandi, Babat, Kedanten, Kesemi, Sobo, Purwodadi, Pucang, Keboireng, Wonokoyo, dan lain-lain.
0 komentar:
Posting Komentar